Pengertian Weighted Moving Average

Dalam dunia forex, ada kalanya Anda akan membutuhkan prakiraan atau forecasting untuk menentukan arah trend pasaran. Setelah teknik forecasting dipilih, trader masih harus melakukan proses pengendalian terhadap proses forecasting. Salah satu metode sederhana dari forecasting adalah Weighted Moving Average. Apa itu Pengertian Weighted Moving Average?

Perlu diketahui metode Weighted Moving Average merupakan pengembangan dari metode Moving Average dengan menambahkan faktor bobot. Apabila metode Moving Average menggunakan rata-rata dari beberapa data terakhir sebagai data perkiraan masa berikutnya, maka lain halnya dengan WMA.

WMA atau Weighted Moving Average akan berusaha mem-forecast beberapa data terakhir dengan memberikan bobot yang berbeda-beda. Hal ini didasari kalau pengaruh data yang lebih baru adalah lebih besar dari data yang lebih lama terhadap kondisi di masa datang. Untuk lebih jelasnya, mari simak penjelasannya di bawah ini.

Perhitungan Weighted Moving Average

Dari pengertian singkat di atas, bisa ditarik kesimpulan jika Weighted Moving Average (WMA) adalah rata-rata tertimbang dari harga terakhir, dimana pembobotannya menurun dengan harga sebelumnya.

Berikut ini perhitungan dasar dari metode WMA:

(Price X weighting factor) + (Harga periode sebelumnya X faktor pembobot-1) ….

WMA dapat memiliki bobot berbeda yang ditetapkan berdasarkan berapa banyak periode yang sedang dilihat. Jika ada empat harga yang Anda inginkan dengan rata-rata bergerak yang berat, maka bobot terbawahnya bisa 4/10, periode sebelum bisa memiliki berat 3/10, periode sebelum itu bisa memiliki bobot 2/10, dan seterusnya.

10 adalah nomor yang diambil secara acak, dan bobot 4/10 berarti harga terbaru akan mencapai 40% dari nilai WMA, sementara harga empat tiga periode yang lalu hanya menyumbang 10% dari nilai WMA.

Lalu asumsikan harga 90, 89, 88, 89 ke dalam rumus di atas dan hasilnya bisa seperti ini:

(90 x (4/10)) + (89 x (3/10)) + (88 x (2/10)) + (89 x (1/10)) = 36 + 26,7 + 17,6 + 8,9 = 89,2

Rata-rata pergerakan yang ditimbang sangat dapat disesuaikan sehingga Anda dapat menetapkan bobot yang Anda inginkan untuk data yang lebih baru. Poin harga yang lebih baru biasanya diberi bobot lebih, tapi bisa juga bekerja dengan cara lain – dimana harga historis diberi bobot lebih.

Cara kerja metode Weight Moving Average

Metode WMA memang mirip dengan metode Moving Average, namun hanya saja diperlukan pembobotan untuk data yang paling baru dari deret berkala. Sebagai contohnya adalah data yang paling baru ditentukan bobotnya sebesar 0.4, dan terbaru berikutnya berbobot 0.3, lalu berturut-turut 0.2 dan terakhir 0.1. Satu lagi yang perlu diingat adalah bahwa jumlah bobot yang diberikan harus sama dengan 1.00, serta bobot terberat diberikan pada data yang terbaru.

· Gunakan WMA untuk membantu menentukan arah tren. Ini bisa menjadi indikasi untuk membeli saat harga turun atau tepat di bawah WMA. Dan juga bisa menjadi indikasi untuk menjual saat harga rally ke arah atau tepat di atas WMA.

· Moving averages juga dapat mengindikasikan area support dan resistance. WMA yang naik cenderung mendukung aksi harga, sementara WMA yang jatuh cenderung memberikan perlawanan terhadap aksi harga. Strategi ini menguatkan ide beli saat harga mendekati kenaikan WMA atau jual saat harga mendekati WMA yang jatuh.

· Semua rata-rata bergerak, termasuk WMA, tidak dirancang untuk mengidentifikasi perdagangan di bagian bawah atau atas yang tepat. Moving averages cenderung memvalidasi bahwa perdagangan Anda berada dalam arah umum tren, namun dengan penundaan pada saat masuk dan keluar. WMA memiliki delay yang lebih pendek maka SMA.

· Gunakan aturan yang sama yang berlaku untuk SMA saat menafsirkan WMA. Perlu diingat, WMA umumnya lebih sensitif terhadap pergerakan harga. Ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, WMA dapat mengidentifikasi tren lebih cepat dari pada SMA. Di sisi lain, WMA mungkin akan mengalami lebih banyak whipsaws daripada SMA yang sesuai.

Penggunaan Weighted Moving Average

Apabila metode WMA hampir sama dengan metode Moving Average sederhana (SMA), maka banyak timbul pertanyaan apakah perbedaan antar keduanya? Jawabannya ialah tentu saja banyak, bahkan keduanya bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian. Namun, karena nama mereka mirip sehingga bisa disimpulkan bahwa WMA dan SMA menggunakan metodologi yang sama, namun caranya yang berbeda.

Untuk lebih mudah ditafsirkan, maka Anda bisa membayangkan seperti ini:
Mana harga yang mempunyai bobot penekanan yang lebih besar dalam memprediksi harga di depan, harga satu jam terakhir, atau harga dua bulan yang lalu? Pastinya harga satu jam terakhir karena pergerakan harga pada satu jam terakhir akan lebih representatif dalam memprediksi harga di depan, jika dibandingkan dengan harga dua bulan yang lalu.

Bobot penilaian inilah yang diatur oleh Weighted Moving Average. Lain halnya pada SMA, bobot setiap harga, baik dua minggu lalu maupun dua hari yang lalu, mempunyai bobot penilaian yang sama. Di metode WMA, data terakhir memiliki nilai bobot yang lebih besar nilainya ketimbang harga-harga sebelumnya. Pembobotan nilai pada WMA juga bergantung pada panjang periode yang Anda tetapkan. Semakin panjang periode, maka semakin besar pembobotan pada data terbaru.

Peraturan Posisi WMA

Kemudian, peraturan metode Weighted Moving Average hampir sama seperti pada SMA, karena memang perhitungannya sama dan hanya mempunyai perbedaan pada pembobotan nilainya.

Berikut ringkasan peraturan WMA:
· WMA berada di bawah harga, yang berarti kondisi trend naik

· WMA berada di atas harga, yang berarti kondisi trend menurun

· WMA periode lebih pendek memotong WMA lebih panjang dari atas, yang berarti perubahan trend menuju bullish

· WMA periode lebih pendek memotong WMA lebih panjang dari bawah, yang berarti perubahan trend menuju bearish

· WMA memotong harga dari atas, yang berarti perubahan trend menuju bullish

· Sebaliknya, WMA yang akan memotong harga dari bawah, yang berarti perubahan trend menuju bearish

· WMA dengan periode lebih panjang berada dibawah WMA berperiode lebih pendek, yang berarti kondisi trend naik

· WMA dengan periode lebih panjang berada diatas WMA berperiode lebih pendek, yang berarti kondisi trend menurun

Metode WMA juga lebih responsif dalam memprediksi perubahan trend pada USD/GBP. Di tiap nilai titik peralihan trend masih berada pada candlestick terakhir trend yang sedang berlangsung. Selain itu, akan terjadi perubahan trend dari bullish menuju bearish. Dalam hal ini, pemilihan periode yang tepat juga sangat berpengaruh pada presisi penentuan trend.

Sampai disini, Anda telah mengetahui jika pembobotan harga di tiap-tiap rentang waktu yang berbeda nilainya juga akan berbeda. Namun, apakah metode pembobotan pada WMA merupakan metode pembobotan yang paling cepat dalam memberikan perubahan trend?

Jawabannya tidak. Pada metode WMA, pembobotan dilakukan tidak menyertakan nilai WMA sebelumnya. Pada bagian setelah ini, Anda akan melihat metode rata-rata bergerak yang melibatkan fungsi eksponensial dalam melakukan pembobotannya. Hasilnya pun adalah pemberian sinyal peralihan yang dapat lebih dini.

Incoming search terms:

  • PENGERTIAN WEIGHT MOVING AVERAGE
  • pengertian weighted moving average
  • penjabaran weight moving average

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *